Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Monday, 8 September 2014

Dunia Tak Akan Pernah Tahu


cerpen terbaru, selamat menikmati ^^

Hujan mengalir deras, suara angin kencang dan kilatan petir yang menyambar-nyambar menambah keruh batin Nirwana, ibu berusia 45 tahun. Ia kembali meraih ponselnya, dan mencoba sekali lagi menghubungi anak gadisnya yang masih belum pulang dari sekolah. Berharap anaknya memberi tahu keberadaannya sekarang agar hati Nirwana lebih tenang. Namun, telepon Nirwana lagi-lagi tidak diangkat. Anak gadisnya yang bernama Khaila, seolah mengacuhkan panggilan darinya.
Ya Allah... ke mana anak itu pergi? Selamatkanlah dia ya Allah. Batinnya khawatir.
Ia kembali modar-mandir, resah. Kemudian berjalan menuju jendela, ditatapnya bingkai jendela sembari menanti kedatangan anaknya. Namun, tak ada tanda-tanda kedatangan anaknya.
Beberapa menit berlalu. Terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Nirwana kembali melongok jendela. Seorang laki-laki memakai mantel membonceng anaknya. Anaknya basah kuyup kehujanan, masih memakai pakaian SMA. Sudah kuyup pun, anaknya belum masuk rumah. Ia masih menatap lelaki itu, bersenda gurau, lalu menyalami laki-laki itu layaknya seorang istri pada suami. Laki-laki itu pun kemudian turun dari motornya dan  mencium kening Khaila.
Nirwana tersentak. Adegan macam apa ini? pekiknya dalam hati. Dia kah laki-laki yang sekarang membuat anakku mabuk kepayang? dia kah laki-laki yang membuat anakku berani membangkang? Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Batinnya teriris, ibu nirwana lunglai.
Selang beberapa menit, anaknya masuk.
“Assalamualaikum,” ucap khaila, gadis berumur 16 tahun yang merupakan anak semata wayang Nirwana.
“Habis dari mana kamu?” Nirwana geram. Ia menahan amarah. Khaila tak menjawab malah melongos pergi. Nirwana tidak diam saja. ia menghampiri anaknya. Ia merasa harus memberi nasehat pada anaknya agar anaknya sadar bahwa perbuatannya salah.
“Ditanya malah diam saja! Habis dari mana kamu? Pulang sekolah bukannya pulang ke rumah malah main sama laki-laki!” bentaknya.
Tak habis di situ, Nirwana mendekat dengan wajah garang. “Terus apa-apaan kamu tadi di depan rumah? Kayak perempuan yang engga punya adab!!”
Nirwana benar-benar tidak mampu menahan amarah. Ia kecewa dengan kelakuan anaknya hari ini. ia marah, ia jengkel. Belum lagi kelakukannya kemarin yang membuatnya geram. Ditambah pembangkangan Khaila dan kejadian yang baru saja terjadi membuat ia benar-benar terpukul. Sebagai seorang ibu, ia merasa sangat bertanggung jawab dan cemas  atas perilaku Khaila sekarang.
Khaila terdiam. Dia tidak membantah sepatah kata pun. Dalam hati, ia mengakui kesalahannya. Namun, sikap egonya membuat dia tidak mau berada di posisi salah. Ia merasa benar, ia merasa bahwa apa yang dilakukannya wajar dilakukan sepasang kekasih.
“Pulang sama laki-laki, pake acara ciuman. Kamu itu perempuan! Belum menikah! Tidak seharusnya melakukan hal seperti itu! dia itu bukan suamimu!”
Khaila masih terdiam, bukannya merasa bersalah justru malah kesal.
“Pacaran pake acara begituan. Mau jadi perempuan macam apa kamu?  Inget, pacar itu calon mantan! Sekarang ibu tanya, udah pernah ngapain aja kamu sama dia?!” bentak ibunya lagi.
“Aku tuh kehujanan mah, masih mending ada yang mau nganterin aku pulang!” bentak Khaila kemudian. Nirwana tersentak.
“Harusnya mamah tuh khawatir sama Khai. Ini malah marah-marah!” Cerocos Khaila pelan. “Kalau mau ngomong engga usah marah-marah! Biasa aja!” tambah anaknya.
Nirwana semakin geram. “Berani kamu membantah Mamah?! Kamu pikir kelakuan kamu tadi bagus?”
“Mah, ini tuh udah 2014. Bukan jaman jadul kayak jaman mamah lagi! di luar sana banyak yang kelakuannya lebih parah dari Khai, tapi mamahnya engga marah-marah kayak....”
PLAAKK!!
Sebuah tamparan melayang ke pipi Khaila. Nirwana tak tahan dengan sikap pembangkang anaknya. Khaila tersentak, ia menangis tersedu-sedu merasa didzolimi oleh ibunya sendiri.
***
Seharian Khaila  diam, tidak mau bicara sepatah katapun pada ibu ataupun ayahnya. Ia sebal dengan sikap ibunya yang dirasanya sudah sangat kasar.
Nirwana pun sebenarnya merasa sangat bersalah pada anaknya. Berlaku kasar dengan menampar anaknya seperti kemarin sore bukanlah gayanya dalam mendidik anak. Hanya saja saat itu dia terbawa emosi. Makanya seharian ini ia berusaha membaik-baiki anaknya. Dia menawari makanan yang paling disukai Khaila, mengajak Khaila jalan-jalan, bahkan mengajak Khaila belanja pun, Khaila tetap menolak. Khaila bersikukuh dengan rasa marah dan kesal pada ibunya. Sepulang sekolah, Khaila mengunci diri di kamar.
“Khai,” panggil ibunya dari balik pintu. “Maaf kan mamah ya, Nak. Mamah sudah bersikap kasar.” Ucap Nirwana terbata.
“Mamah mungkin salah dengan bersikap kasar. Tapi, mamah tidak akan bersikap begitu kalau kamu tidak melakukan hal yang salah. Mamah tahu, ini bukan jaman mamah. Tapi, Nak, bukan jaman yang memberi kita aturan untuk menjaga harga diri sebagai perempuan.” Ucapnya berkaca-kaca. Ia berharap anaknya mengerti.
Kemudian Khaila membuka pintu. Tanpa basa-basi pada ibunya, Khaila tergesa keluar dari kamar dengan membawa ransel besar di pundaknya.
“Mamah engga ngerti aku! Khai benci mamah!” Pekik Khaila sesampainya di muka pintu rumah. Dia pun berlari. Tanpa diduga, di luar sana laki-laki itu sudah menunggunya.
Nirwana berlari mengejar. Namun, terlambat. Khaila sudah lebih dulu melaju bersama deru motor yang semakin menjauh.
Rasa takut pun menggeliat, merasuk ke dalam hati Ibu Nirwana.
***
Khaila dulu tidak seperti itu. sebelummya dia adalah anak yang penurut. Tidak pernah berkata kasar apalagi membangkang. Sejak memasuki SMA, sikapnya perlahan berubah semenjak mulai memasuki masa puber. Dia seperti menemukan dunianya sendiri.  
Berbeda dengan dulu, Sekarang mainannya gadget, Facebook dan Twitter sudah menjadi buku diary-nya, dan  ponsel menjadi teman sejawatnya. Berbeda ketika dia masih memegang BP-BP-an, pasir, atau bermain tali di depan rumah. Dia masih sangat penurut, mamah dan papah adalah orang nomor satu yang ia percaya. Tapi, sekarang yang paling ia puja adalah orang lain yang bahkan belum bisa mengenal dirinya lebih dalam.
Khaila mungkin telah salah. Tapi, Nirwana tetaplah seorang ibu. Tak ada satu ibu pun yang akan merelakan anaknya salah jalan.
Sudah tiga hari berlalu semenjak kepergian Khaila dari rumah. Nirwana sudah hampir kehabisan cara untuk menemukan di mana Khaila berada. Sampai akhirnya ibu riana memutuskan untuk menguhubungi polisi.
Selebaran berisi orang hilang telah disebar. Beberapa ditempel di tiang, di pagar, bahkan di dinding pertokoan. Hasilnya nihil, Ibu Nirwana kembali harus mengurut dada.
Batinnya teriris, jutaan kelu menggores relung hatinya. Ia tidak habis pikir, pelajaran apa yang telah ia berikan pada anaknya sehingga anaknya senekat ini? kesalahan apa dalam pengajarannya yang telah membuat anaknya berbuat sedemikian berani, kabur dari rumah dan pergi bersama laki-laki?  Jauh dari dalam hatinya, ia menyesali diri, ia menekuri apa yang telah terjadi. Sekarang ia hanya bisa berharap semoga tidak ada hal buruk yang terjadi pada anak semata wayangnya yang sangat ia cintai.
Hampir sebulan berlalu, tanpa dipinta anaknya tiba-tiba datang sendiri. dia diantar oleh seorang lelaki paruh baya yang mengaku menemukan Khaila sedang berjalan di pinggir sungai seperti orang bingung. Khaila tidak membawa apapun, bahkan sebuah ransel yang dulu digendongnya pergi. Wajahnya pucat, badannya kuyu. Tanpa pikir panjang, ibunya menangis haru, mendekap anaknya penuh suka cita.
Khaila pun menangis di bahu ibunya.
“Maafkan Khaila, Mah. Maafkan Khaila, Khaila salah... Khaila salah...” ucap Khaila terbata.
Nirwana lega akhirnya anaknya mengakui kesalahannya. Namun, Batin Nirwana bertanya-tanya, apa yang sudah terjadi sampai anaknya kabur dan kembali dengan keadaan seperti ini? Apakah hal buruk menimpa anaknya? Apakah laki-laki itu berbuat hal-hal yang tidak-tidak pada anaknya?
“Kau selama ini ke mana, Nak? Mamah mencarimu, Mamah kebingungan mencarimu.” Isak Nirwana.
Mendengar hal itu, Khaila semakin merasa bersalah. Ia semakin menyesal dengan keputusannya saat itu untuk meninggalkan rumah bersama laki-laki yang dicintainya. Ia pergi meninggalkan keluarga yang begitu mencintainya bersama orang yang bahkan tidak mengetahui rasa cinta.
Ia hanya dimanfaatkan. Hanya diberi janji palsu dan sebuah omong kosong mengenai kesetiaan. Setelah  ia memberikan hal yang sangat ia jaga, kini ia dicampakkan. Dia dibuang layaknya sampah. Dibuang kepada orang-orang yang tak memiliki hati, dibagi-bagi, dinodai.
Air mata Khaila semakin deras mengalir. Ia begitu frustasi, mengingat kejadian kemarin yang telah berlalu. Ia sungguh tidak kuat, batinnya seakan terus memberontak. Rasa bersalah yang terus melingkupi hatinya membuat ia semakin terluka. Ia ingin melawan, ia sungguh ingin melawan saat itu. Namun ia tak berdaya. Kini Ia marah, ia kesal, ia membenci dirinya sendiri. Sekarang hanya tersisa penyesalan dan rasa sakit di hatinya.
Tiba-tiba Khaila menjerit-jerit. Ia seperti orang ketakutan layaknya orang dikejar setan. ia kemudian berteriak, teriakan serupa melolong. Ia meracau. Terus menerus meminta maaf dan berkata-kata yang tidak jelas. Ia kembali menjerit-jerit. Tentu saja, hal itu membuat ibunya panik dan takut.
Air mata Nirwana masih mengalir di pipi. Ia peluk anaknya kuat-kuat walau anaknya meronta layaknya orang gila.
“Kenapa Nak? Kamu kenapa? katakan pada ibu!” ucap ibunya sambil mengusap poni dan mengapus air mata Khaila. Rasa gundah menyelusup ke dalam hati Nirwana, perih. Apa gerangan yang sudah terjadi?
“Katakan pada Mamah, Nak. Apa yang sudah terjadi?” Nirwana mencoba menghentikan erangan Khaila.
“Jangan takut, sayang. Jangan takut. Ceritakan pada Mamah. tidak akan ada yang tahu. Dunia pun tidak akan  pernah tahu, ini hanya rahasia kita berdua saja. Jangan takut, Nak. Mamah bersamamu.” Bisik Ibu Nirwana ke telinga anaknya. Dan perlahan, jerit tangis Khaila pun berhenti.



BIODATA PENULIS


Nama                           : Iif Rifda Zazilah
Tempat/tanggal lahir   : Ligung, 12 April 1992
Alamat                                    : Blok Leuwi Mukti RT 004 RW 005 Desa Ligung Kecamatan Ligung Kabupaten Majalengka 45456
Pekerjaan                     : Mahasiswa semester 6 jurusan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan Universitas Majalengka
Email                           : iifz9135@gmail.com
Hp                               : 085721974271
Karya yang pernah dipublikasikan : Perisai Asmara (elex Media, 2012), Lalu Biar Diam Menjadi Teman (Elex Media, 2013), Bad Romance (Stilettobook, 2013)



Saturday, 30 November 2013

Terompet Usang




11 Januari 2010

Duhai bintang gemerlap
Yang Penciptanya tiada pernah terlelap
Aku ingin menitipkan sehelai mimpi pagi
Wahai Sang Pencipta
Asa itu seperti juntai pengikat yang menghubungkan antara aku dan kasih-Mu
Antara mimpiku dan surga-Mu
Ya Tuhanku, bimbing aku menuju apa yang mampu aku capai.

Aku menutup buku. Goresan tinta pada buku ini juga menutup penghujung hari yang melelahkan. Buku yang sekarang aku simpan ini, menjadi pendengar setiaku. Terlebih saat penat mulai merayap, membuatku tak tahan akan kehidupan konstan yang aku jalani hari demi harinya, minggu demi minggu, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahunnya. Hidup terasa berjalan di tempat yang sama.
Kini hari sudah menjelang malam. Kembali pada rutinitas malamku. Menunggu. Selepas isya, adik-adikku pulang dari surau tempat mereka mengaji. Mereka selalu ingin ditunggui di teras rumah. Tak berani. Itulah alasan mereka. Apalagi saat melewati kebun pisang yang jaraknya 10 meter dari rumah. Kesunyian menghadang dibalik daun-daun pisang. Membuat merinding adik-adikku yang baru pulang mengaji dari surau.
Aku termangu, menunggu adik-adikku yang belum tampak batang hidungnya. Mereka akan berlari terbirit saat melewati kebun pisang milik Bapak Haji Sulaeman yang gelap gulita sambil berteriak memanggil namaku saking takutnya.
Konon, di kebun itu sering ada suara-suara aneh yang membuat bulu kuduk merinding. Tapi, untung saja aku tidak pernah mendengar suara-suara itu. Bahkan mungkin saja semua cerita seram itu hanya karangan orang penakut saja. sama seperti  adik-adikku yang mengarang pernah mendengar suara-suara aneh itu saat melewati kebun pisang Haji Sulaeman.
Langit sudah benar-benar gelap. Pukul tujuh lewat. Adzan isya pun sudah menggema dari beberapa menit yang lalu. Anak-anak harusnya sudah keluar dari masjid dan pulang. Sama seperti adik-adikku yang seharusnya sekarang sudah lari terbirit sambil memanggil namaku seperti biasanya. Namun, kali ini berbeda. Mereka belum juga terlihat. Dan ini membuatku kesal. Karena ibu akhirnya menyuruhku segera  menyusul mereka ke surau.
“Cepat Ain, jemput mereka ke surau! Mungkin mereka tak berani pulang atau ada sesuatu yang terjadi. Ibu khawatir.” Titah ibu.
“Mungkin mereka sebentar lagi datang, Bu. Sedang di jalan. Kita tunggu saja sebentar lagi.” Kilahku yang malas menyusul bocah-bocah nakal itu.
“Ini tidak seperti biasanya. Cepat susul mereka!” bentak ibu yang mulai tak sabar. Padahal aku sedang tidak ingin bepergian malam ini.
Ibu menghampiriku, berkacak pinggang sambil memelototiku. Ibu memang tidak marah-marah. Namun membuat aku takut dan tak berani membantah.
Akhirnya aku beranjak, menuruti apa yang ibu perintahkan. Aku segera mengambil kerudung dan senter. Barangkali di jalan terlalu gelap, apalagi di kebun pisang itu. perlahan, aku susuri jalanan. Sambil berharap mereka berdua sedang menuju kemari, sehingga aku tak perlu bersusah payah mencari mereka sampai ke surau. Namun, mereka belum juga terlihat.
Akhirnya aku sampai di surau. Surau sudah sepi. Tak ada anak-anak maupun orang dewasa. Yang tersisa hanya lampu halaman masjid yang sengaja dinyalakan penjaga surau.
“Kak Aina!” pekik seseorang dari kejauhan. Aku menoleh.
“Kakak mencari Fauzan dan Fauzi?” tanya Hasan yang tergopoh sambil mendekat.
“Iya. Kau melihat mereka?”
“Iya. Mereka sedang berkelahi di depan Gang rumah Badru.” Ucap Hasan, anak seumuran adik kembarku.
Aku terkesiap. Segera berlari ditemani Hasan yang berlari di belakangku.
“Masyaallah!” pekikku.
Aku melotot. Kedua adikku benar-benar sedang berkelahi. Aku menarik tangan si kembar. Mencoba menghentikan perkelahian. Keempat anak nakal ini, Kasim, Husni, Fauzan dan Fauzi saling tinju. Tidak tahu sedang memperebutkan apa.
“Dasar nakal! Kenapa berkelahi? Berhenti! Berhenti!” omelku setengah berteriak.
Keempatnya terdiam. Mereka sudah berhenti berkelahi. Namun wajah mereka masih merah padam. Menahan marah sambil melotot ke arah orang yang dianggap lawan.
“Dia yang duluan!” teriak fauzi.
“Tidak! kau yang cari masalah!” bantah Husni.
“Enak saja! kau menuduh kami!” sanggah Fauzan.
“Fauzi memang mencuri! Buktinya ada robot mainanku di saku celananya!” tandas Kasim.
“Kau....”
“Sudah!” potongku cepat. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku mencoba menyelesaikan masalah.
“Dia mencuri mainanku, Kak!” ucap Kasim.
“Tidak! aku tidak mencuri!” sanggah Fauzi.
“Bohong! Buktinya ada di sakumu!” tambah Husni.
“Benar kau mencuri, Fauzi?” aku berkacak pinggang. Geram melihat pertengkaran ini.
“Tidak Kak!”
“Benar!” tuduh Husni.
“Tidak!” bantah Fauzi lagi.
“Aku melihatnya! Fauzi memasukkan mainan Kasim ke saku celananya!” tambah Husni lagi.
Fauzi terdiam sejenak. Wajahnya memerah, tangannya mengepal. Ia kemudian mengambil batu  lalu melemparkannya ke wajah Kasim. Lalu berlari.
“Fauzi!!!” bentakku.
***
Malam itu menjadi malam terpanjang. Fauzi disidang. Ia benar-benar telah melakukan kesalahan fatal. Ia memang mencuri mainan kasim. Ia dan saudaranya juga bolos mengaji, malah ikut bermain di rumah Kasim. Dan parahnya, orang tua Kasim datang ke rumah meminta ganti rugi karena kening Kasim berdarah akibat batu yang dilempar Fauzi.
Tentu ayah dan ibu tak bisa berbuat apa-apa. Tak bisa membela anak bungsunya. Karena memang dia benar-benar bersalah. Ayah akhirnya mengganti rugi. Memberikan uang hasil bekerjanya hari ini untuk berobat Kasim ke dokter. Dan lenyaplah sudah uang yang seharusnya digunakan untuk membayar uang praktik sekolahku. Aku bahkan ikut kecepretan dimarahi ibu.
“Kalau saja kamu cepat menjemput mereka ke surau, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi.” Omel ibu padaku.
Lalu, apa yang dikatakan Fauzi dengan santainya?  “Aku geram melihat Kasim terus-terusan memamerkan mainannya. Sombong karena punya mainan bagus. Sebal melihat tingkahnya yang seperti meremehkanku.” Ucap Fauzi tanpa rasa bersalah.
Hanya karena hal itu ia melakukan hal ini? dan inilah yang terkadang membuat aku benci punya adik. Mereka pembawa masalah. Dua adik kembar nakal yang melengkapi penderitaanku. Walau aku tahu bahwa kedua adikku pun sebenarnya menderita.
Mereka berdua harus gigit jari saat melihat teman-teman mereka membeli mainan yang bagus, makanan enak, baju bagus, dan kendaraan yang bagus milik orang lain. Ibuku hanya seorang pedagang bubur, dan ayahku bekerja serabutan. Kadang menjadi kuli, kadang jadi tukang bersih-bersih, kadang malah nganggur. Suatu hal yang luar biasa bagi orang tuaku sampai bisa menyekolahkanku sampai SMA dengan penghasilan pas-pasan.
Tapi, aku terkadang tidak sabar. Marah dengan keadaan ini. Iri pada yang lain. aku kadang merasa tidak PD dengan keadaanku sekarang. keadaan ekonomi keluarga yang mencekik. Kedua adikku yang nakal yang menjadi tanggung jawabku selama ibu dan ayah bekerja. Menjadi kakak itu sulit. Dan menjadi orang miskin pun lebih sulit lagi.
Harusnya remaja sepertiku mengurusi urusan cinta. Kasmaran seperti yang lain. Tapi tidak. Aku tidak punya waktu untuk mengurusi semua itu. Pekerjaanku sudah cukup menyita waktu. Beres-beres, mengurusi adik yang baru kelas dua SD yang kadang masih merengek minta jajan. Kadang, aku pun harus cari uang jajan sendiri dengan menjual aksesoris buatan tangan.
Dan cita-cita tertinggiku adalah menjadi orang kaya. Memiliki banyak uang agar tidak ada lagi orang yang menghinaku, menghina keluargaku, menyepelekanku. Namun harapan itu perlahan luntur. Aku mulai mengubur jauh mimpi itu. Semua mimpi itu terasa terlalu jauh untuk direngkuh.
Tahun lalu, saat terompet tahun baru dibunyikan tengah malam. Aku berharap kehidupanku berangsur berubah. Aku berharap orang tuaku mendapatkan pekerjaan yang lanyak. Aku berharap tidak begini-begini saja. aku berharap ada setitik perubahan yang membuat aku lebih bisa berbangga diri.
Namun, beberapa hari bahkan beberapa minggu dari itu, hidup kami tetap seperti ini. Ayah masih seorang buruh dengan gaji rendah. Ibu juga tetap menjadi tukang bubur dengan penghasilan tidak tetap. Jadi, apa lagi yang bisa aku harapkan pada tahun ini? Tak ada. Semua harapanku lenyap. Aku hanya tinggal menunggu nasib saja.
***
“Ain.” Sapa Eziro. Kali ini motornya berwarna merah tua. Motor ninja yang kabarnya hadiah ulang tahun dari ayahnya.
“Kau mau ikut?” ajaknya.
Aku tersenyum sembari menggeleng. “Tidak, Zi. Terima kasih.”
“Padahal ini sudah siang loh! Nanti kau terlambat!” ucapnya lagi.
“Tidak. terima kasih.” Aku berlalu dengan senyum yang dipaksakan.
Helm hitamnya kembali ditutup, kemudian memencet klakson, dan berlalu dengan cepatnya.
Aku berhenti sejenak. Menghela nafas dan kembali mengambil langkah.
Eziro. Laki-laki yang dulu sempat aku suka. Dia laki-laki terbaik yang pernah aku kenal. Dia juga tidak sombong. Dia sangat ramah. Dan itulah hal mendasar yang membuat aku menyukainya.
Kami pernah sekelas. Kami juga pernah sangat dekat. Sebelum aku bisa dekat dengannya, aku pernah menguntit dia kemana pun. Menghadiri perlombaan basketnya, mengikuti latihan sepak bolanya bersama kedua adikku, dan aku juga sempat memberikan bubur buatan ibu untuknya yang akhirnya ditertawakan teman-temannya. Tapi, dia tetap memakannya. Dia malah menghabiskannya dan berkata ‘Enak. Terima kasih.’ Sambil tersenyum.
Sejak saat itu kami dekat. Namun, bukan berarti kami pacaran. Hanya teman dekat, itu saja. dan itu sudah cukup.
Namun, semenjak banyak teman-temannya yang mendiskriminasiku karena tidak menyukaiku, maka aku mundur. Aku berusaha menjauh dari Eziro. Dan walau sudah menjauh, tetap saja siswi yang menyukai Eziro mendiskriminasiku.
Padahal, apa salahnya kalau aku jatuh cinta? Cinta itu kan tidak terpaku pada apakah dia miskin atau kaya. Cinta, ya cinta saja. Memang kenapa? Ini zaman modern, kan? Tapi, ternyata tidak seperti itu. Walau pada kenyataannya cintaku ini Luar biasa untuknya, tapi diriku tidak cukup ‘luar biasa’ untuk bersamanya. Dan banyak orang menganggapku tidak pantas.
***
27 Desember 2010
“Ain, kemari sebentar!” panggil Ayah. Aku terhunyung dari kamar menuju ruang tamu.
Di ruang tamu sudah berserakan plastik warna-warni, kertas karton besar, gunting dan juga lem. Fauzan dan fauzi terlihat sangat antusias. Mereka sudah terlihat sibuk sendiri dengan gunting dan plastik.
“Ayah mau buat apa?” tanyaku polos.
“Sebentar lagi tahun baru, kan? Yuk kita buat terompet murah untuk dijual. Lumayan kan buat tahun baru nanti?”
Aku mengangguk lalu terduduk di sisi lain dan terdiam cukup lama. Namun aku buru-buru sadar. Aku tahu bahwa aku dipanggil ke ruangan ini bukan untuk melamun. Akhirnya aku mengambil kertas dan gunting yang ada di hadapanku. Jujur, aku tidak terlalu antusias dengan ide ini.
Ayah mungkin melihat wajahku yang lesu dan tak bersemangat.
“Ain, kamu sakit?” tanya ayah.
Aku menggeleng.
“Lalu, kenapa?”
“Tidak apa-apa, Yah.”
“Jangan bohong. Ayah kenal anak-anak ayah.” Ucapnya lagi.
Aku terdiam sejenak. “Ayah, bisakah tahun ini kita lebih baik dari tahun sebelumnya?”
“Memang kenapa?” tanya ayah bingung.
“Tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya, aku sering berharap bahwa tahun berikutnya kehidupan kita akan semakin meningkat. Berharap ayah punya pekerjaan tetap, Berharap ibu punya warung sendiri agar tidak usah keliling jualan bubur, berharap Fauzan dan Fauzi cepat mandiri. Tapi, selalu dan selalu harapanku tidak pernah terkabul tahun demi tahunnya.”
Kini ayah yang terdiam. Kami sama-sama terdiam. Fauzan dan Fauzi yang dari tadi berisik pun akhirnya terdiam. Mereka mendengar nama mereka disebut. Dan mereka sadar kami dalam pembicaraan yang serius.
“Aku berharap kita punya rumah sendiri, tidak ngontrak. Berharap punya motor, berharap punya uang banyak biar kalau bayaran sekolah tidak perlu pusing lagi. Berharap seperti sisiwi lain yang bisa membawa ponsel bagus ke sekolah, sepatunya bagus, tasnya bagus. Aku ingin seperti mereka, Yah.” Aku terisak.
Aku tahu ini ucapan bodoh yang keluar dari seorang anak yang tidak punya pikiran. Aku tahu, aku pasti melukai hati ayah atau ibu yang mungkin mendengar ucapanku dari bilik dapur sana. Aku pun sudah siap jika dimarahi.
“Sabar ya, Nak.” Ayah kembali terdiam lalu mengambil nafas. “Tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya kesusahan. Tidak ada juga orang tua yang ingin melihat anaknya menderita. Dan itulah mengapa sampai sekarang ayah terus bekerja untuk kalian, untuk membahagiakan kalian.”
Ayah terdiam lagi.
“Sekarang kita memang tidak punya. Kita miskin. Tapi bukan berarti kita tidak bisa bahagia seperti orang lain.” Tambah ayah.
“Dan ayah sangat bahagia memiliki kamu dan adik-adikmu juga ibumu yang selalu sabar. Dan kalianlah yang membuat ayah semangat untuk bekerja.” Ayah terdiam sejenak. Lalu melanjutkan kata-katanya.
 “Sebagai anak sulung dan anak yang sudah dewasa, kamu pasti mengerti maksud ayah. Ayah mengerti perasaanmu. Kau mungkin bosan dan jenuh dengan keadaan kita.”
Aku tertunduk mendengarkan kata-kata ayah. Tetesan air mata mengalir deras di pipi.
“Tapi, kamu tidak boleh putus asa. Harapan yang kita inginkan bukan berarti tidak mungkin terwujud. Hanya saja belum tercapai. Karena sesuatu yang kita atau orang lain anggap tidak mungkin terjadi, bukan berarti tidak akan terjadi. Itulah mengapa ayah menyekolahkanmu dengan harapan kau akan memiliki kehidupan yang lebih baik dari ayah dan ibu.”
Aku semakin terisak. Ibu mendekat dan merangkulku.
***
Pagi ini, ayah berangkat menuju pasar. Mencoba menjajakan terompet buatan kami semalam. Dia begitu bersemangat dan berharap semua terompet kami terjual. Ayah tidak pernah pesimis, sekalipun upah kerja yang didapatnya kecil. ia memiliki tekad baja, dan aku iri. Aku pun ingin memiliki tekadnya.
“Ain, Ain!!!!” teriak Salma.
Aku menoleh malas.
“Kau sudah lihat apan pengumuman?” Tanya Salma.
Aku menggeleng. Mencoba bersikap tenang menghadapi Salma yang tidak bias diam.
“Kau dapat beasiswa Ain, beasiswa!!” pekiknya lagi. Aku terkaget. “Kau diminta ke ruang guru sekarang!”
Aku berjalan setengah berlari. Sedang dan bangga bias mendapatkan beasiswa. Aku dapat beasiswa ayah, aku dapat beasiswa, batinku.
Namun sesampainya di ruang guru, aku mendapati wajah mereka tampak sayu. Memucat. mereka memandangiku iba. Aku tak mengerti dan juga tak peduli. Yang terpenting, kabar gembira ini membuatklu bahagia. Namun yang aneh, kenapa ada Mang Janu di sana. Tengah berdiri bersopan santun dengan wajah pucat pula.
“Ain,” ucap seorang guru pelan, ketika aku menghampiri mereka.
 “Kamu disuruh pulang. Ayahmu kecelakaan.”
Aku terbelalak. Tak ada waktu untuk terkaget-kaget. Bahkan tak ada waktu untuk kembali ke kelas dan meraih tas. Aku pulang dengan tergesa tanpa peduli teriakan yang memanggil-manggil namaku.
Jasad yang tertutup kain putih terbaring di tengah-tengah manusia yang berjejal di rumah kontrakan sempit kami. Tubuh terbujur kaku yang menyemangatiku semalam. Kini dia menutup mata selamanya, setelah sebelumnya tertabrak motor ninja merah tua pagi tadi.