Thursday, 23 May 2019

Sejarah Nama Anakku, L Rafis Ibrahim

Pas hamil, aku belum nentuin nama anak. Setelah tahu hasil usg pun kalo dia laki2 juga, aku belum ngerancang nama anak. Masih takutnya berubah. Bikin option nama cewe atau cowo pun kagak. Kata suami, nanti aja kalo udah lahir.

Setelah lahir pun, masih belum ngasih nama. Tiap manggil, ya dede... dede... sama kayak pas manggil dia waktu dia masih dalam kandungan.

Tapi aku sih pengen banget ngasih nama dia yang diambil dari nama kami. ZADAVI, ZAVIQ, atau ZAFIK, gitu.. sama ada kata Samudera Samudera nya. Tapi kata suami, ga boleh ada kata Samudera, berat, katanya. Yawislah aku ngalah wae yo. Yang penting ada kata Zadavi atau Zaviq yang diambil dari nama Zazilah (aku) Daviqi (suami).

Sehari sebelum hari kasih nama (di daerah kami, Ligung, namanya ngayun) kami nemu nama nih, Haikal (dari babe haikal hasan) Zafiq (Zazilah Fiqi) Ibrahim movic (nabi Ibrahim/ nama pemain sepak bola juga). Eh, besoknya pas acara hari H, nanya ke ustad tuh ga boleh. Karena arti dari haikal itu bisa pohon besar, bisa tengkorak. Aduh serem juga ya. Yang terakhir nama Zafiq itu artinya serigala. Ya kebayang anak gue dikasih nama srigala. Yakali jamannya Gajah Mada atau Sangkuriang dikasih nama serigala (zaman dulu ngasih nama anak laki2 itu dari nama2 binatang dan perempuan dari nama2 bunga. Kalo ga salah tapi, ya).

Akhirnya, karena ibu bidannya udah grasa grusi pengen mulai acara, mana suami lagi engga ada di rumah masih ngantor, sedang orang2 yang lagi junggu saweran udah ngumpul, ya gue akhirnya ngambil keputusan. Nama yang diambil Ibrahim, jadi pas pengumuman nama bu bidannya bilang gini, "Si dede ini namanya Ibrahim, panggilannya apa bu Iif," tanya dia. "Baim,"Jawab gue.
"Jadi, ibu ibu namanya Baim ya.. Ibrahim. Nanti nama panjangannya nyusul."
Wkwkwk gue ngakak so hard dalam hati.

Akhirnya siang itu, suami datang. Dia keliatan kecewa nama Haikal engga bisa dicantumin. Secara dia fens berat Babe Haikal. Teris demi bikin dia senyum lagi, gue bilang, "Yah, ayo kasih nama lagi, aku mah setuju aja."

Temen juga ada yanh ngasih saran nama ini itu di grup. Kebetulan ada nama unik, Rafisqy. Kayaknya ni nama jarang nih, batin gue. Tapi karena gue udah janji ke diri gue sendiri kalo gue bakal menyerahkan pemberian nama ke suami, aku pasrah yowis lah. Sing penting bagus lan ana artine. Konon jare gurue kita.

Jadi kata sang guru, ecieeehh, ustad maksudnya. Kalau kasih nama itu yang bagus, yang ada artinya, yang di dalamnya terdapat doa orang tua untuk anaknya. Jangan cuma berdasarkan kasih nama gabungan nama dari orang tuanya. Kan kisah hidup dan perjalanan anak itu beda sama orang tuanya. Jadi engga perlu lah nyantumin nama ortu, berat, kamu engga akan kuat. Wkwkwkwk lah ga dicantumin nama kite juga udah jelas die anak kite ya kan. Wkwkwk

Akhirnya, ketemu nih namanya Rafis, diambil dari kata Rafisqy bisa, dari Raafi juga bisa. Artinya bagus banget, coy. Kalau Rafis itu sendiri artinya teman. Harapannya dia punya banyak teman, dan bisa jadi teman yang baik buat teman2nya. Kalau darinkata Rafisqi sendiri artinya sempurna dan indah. Sedangkan kata raafi sendiri dari asmaul husna yang artinya tinggi derajatnya. Harapannya sih agar Allah selalu meninggikan derajatnya. Aamiin.

Udah ketemu nih, kata Rafis. Karena aku pengennya 3 kata, suami harus mikir keras lagi nih buat 1 katanya. Akhirnya keluarlah kata Luffy.

Loh, Luffy, yang di One Piece itu ya? Jangan2 penggemar anime ini ya? Kalo penggemar, oya itu bener, kalo seratus persen terinspirasi dari itu, engga juga sih. Karena kita juga punya artinya.

Aku browsing nih arti nama Luffy, ternyata dibil dari kata Luv, love yang artinya cinta. Jadi harapannya dia itu penuh dwngan kasih sayang dan cinta. Luffy, Luvly harapannya dia juga menjadi seseorang yang disayangi banyak orang. Luffy di anime one piece juga merupakan kapten yang baik dan pejuang keras. Dia adalah sosok yang ceria dan bertanggung jawab. Semoga baik2nya mah nempel lah. Yang jelek2nya mah jangan. Hehe

Sedangkan kata Ibrahim diambil dari nama nabi. Nabi Ibrahim merupakan sosok yang berani, tegas, dan cerdas. Jadi, harapannya semoga memiliki sifat yang dimiliki nabi Ibrahim.

Dulu banget waktu masih gadis belia, keukeuh pengen nama anaknya tuh ada unsur kerajaan dan biologi. Kalo anak lelaki mau dikasih nama Muhammad arteri Samudera Pasai. Muhammad kan Nabi Muhammad SAW ya. Sedangkan Arteri adalah nama pembuluh darah kecil. Dan samudera pasai adalah nama kerajaan islam besar pertama di Indonesia.

Kalo perempuan, dulu pengen dikasih nama Vena Cava Hepatica. Wkwkwk biologi banget ya. Tadinya mau di mix nama kerajaan juga. Tapi apa coba, masa Tidore? Ternate Tidore, tau lah ya.

Pesen dari mami, kasih nama anak yang memiliki arti dan doa. Jangan asal niru, ya.

Sekian,

Majalengka, 23 Mei 2019

Tuesday, 21 May 2019

Ibu Bekerja: Badan di Kantor Hati di Rumah

Siapa buk ibuk readers yang punya problematika sama kek judul di atas? Cung hayoo cung...

Kita sebagai wanita memang kodratinya di rumah mengurus anak dan keluarga, Mendidik anak dan mengawasi tumbuh kembangnya. But you know, it is not easy as simple as rebahan di atas kasur kan ya. Buat para ibu mah, rebahan di kasur pagi2 aja udah nikmat banget. Ya karena kadang kita engga punya waktu buat me time. Ye kan? Ok balik lagi ke laptop.

Beberapa orang bilang kita para wanita, para istri, para ibu, baiknya menyerahkan tanggung jawab mencari nafkah pada suami karena mungkin saja disitu ada keberkahan. Memang benar iya.. aku setuju. Cuman logika kitanya aja ya biar duit cepet kekumpul, biar yang belum bisa punya rumah cepet punya rumah. Yang pengen beli mobil bisa cepet kebeli mobil. Yang justru pengen resign sebenernya tapi pengen ngumpulin uang dulu buat modal. Ya macem macem la yah... intinya kita engga bisa menyerahkan tanggung jawab itu sepenuhnya terhadap suami sehingga kita, wanita, akhirnya menyingsingkan lengan baju dan turut andil dalam mencari nafkah itu.

Begitu banyak mimpi yang belum terwujud. Seperti yang ane sebutin di atas ya ibu ibuk. Insyaallah para wanita yang berjuang demi keluarga juga hebat, kan? Dapat pahala juga, engga? Ya urusan pahala itu mah Allah yang punya. Yang jelas kita, sebagai ibuk ibuk setrong berjuang bukan demi diri sendiri tapi buat anak dan keluarga. Insyallah ketika sudah pada waktunya atau ada gantinya yang lebih baik, kita juga bakal resign dari kerjaan kita sekarang. Aamiin. Ya semoga ketiban untung besar dari usaha yang dijalankan, atau bisnis yang dijalankan lancar dan untung sehingga bisa melepaskan kerjaan yang sekarang. Jadi bisa teuteup cari duit sambil jagain anak pan ya..

Aku yakin, hampir semua wanita juga pengennya fokus jadi ibu rumah tangga. membimbing anak, melihat tumbuh kembang anak, dan menyerahkan tentang kebutuhan materi ke suami.

Lah wong sekarang aja kita kerja, hati tetep di rumah kan? Mikirin anak lagi ngapain, bener engga diurusnya, dikasih makan tepat waktu engga, kalo lagi anteng ditungguin engga, diajak main keluar engga, macem macem lah pokoknya pikirannya.

Lagi kerja kangen anak. Liat2 foto anak, liatin videonya pas lagi baceo baceo nya... ya Allah... betapa kita sebagai ibunya ingin selalu jadi yang nomor satu tahu perkembangannya dan ingin selalu menjaganya. (Semoga allh selalu melindungi anak2 kita. Amiin).

Jadi, pie jal? Kita wanita mesti gimana? Jadi ibu rumah tangga beneran atau membantu suami cari nafkah nih?

Aku sih pengen pilih keduanya. Di rumah, jaga anak, didik anak, bimbing anak, plus tetap berpenghasilan.

Caranya? Pengennya bikin bisnis di rumah. Bisa? Yakin bisa? Yakin. Banyak yang sudah membuktikan. Jangan salah loh banyak orang yang sudah berhasil berada di step ini. Sukses di dua bidang ini.

Rencananya, aku pun pengen mengikuti jejak mereka. Selama 2 tahun ini 2019 2020 mulai meniti karir bisnis, belajar, dan membangun bisnis sendiri. Demi siapa? Demi membersamai anak, memiliki waktu luang untuk mereka, dan selalu ada untuk mereka, keluarga dan suami. Aku berharap banget impian ini bisa tercapai, demi Baim, suami, dan demi keluarga.

Semoga impian buk ibuk readers semuanya juga tercapai ya.. saling mendoakan kita...

Iif Rifda Zazilah

Kasokandel, 8 Mei 2019

Tuesday, 23 April 2019

Anakku Terlahir Spesial

Apa salahnya menyandang disabilitas?

Mungkin kita pernah terenyuh, merasa kasihan, atau berempati sebesar2nya ketika melihat penyandang cacat fisik dan atau disabilitas. Rasa kagum kepada mereka yang mampu menjalani hari2 sebagaimana mestinya, sebagaimana orang kebanyakan dengan keadaan yang berbeda tanpa menganggap hal tersebut itu sebuah kekurangan.

Bagaimana jika Anda atau anak Anda atau saudara Anda yang mengalami ? Bagaimana perasaan Anda?

Menyalahkan diri sendiri? Pasangan? Takdir? Tuhan?

Lalu apa yang akan anda pilih? Menerimanya? Mengabaikannya? Atau membuangnya?

Dear All reader, aku memiliki anak spesial yang terlahir dengan tangan kanan yang tumbuh kurang sempurna. Anak bayi kami yang sehat, lahir dengan berat 2.8 kg, panjang 51 cm namun dengan keadaan yang begitu spesial yang diberikan tuhan untuk kami.

awalnya kami menangis. Hampir 2 minggu kami menangis setiap hari. Terutama ibuku. Dia yang paling terpukul. But you know what? Dibalik semua tangis itu engga ada satupun yang benci bahkan kesal sana anakku. Engga ada seorangpun yang terbersit dipikiran untuk mengabaikan atau membenci anakku. Alhamdulillah semuanya sayang, Semuanya bisa menerima. Dan itu yang membuat aku kuat.

Awalnya aku juga setiap hari, setiap ingat tangannya, aku menangis, aku putus asa. Bagaimana masa depan anakku? Bagaimana ketika ia dewasa kelak? Sampai pernah suatu hari aku terbangun tengah malem, gak bisa tidur lagi, dan engga bisa tahajud jg karena masih nifas gara2 stress dan putus asa. Memikirkan masa depan anak.

Dan alhamdulillah esoknya Allah engga tinggal diam. Entah dari mana datangnya, tetiba saja setelah lama berputus asa, terdiam, menghayal, kemudian aku menemukan jawaban sendiri atas segala keresahan yang ada.

"Allah kasih hidup pasti kasih rezeki
Allah yang mencipta Allah juga yang akan bertanggungjawab atas semuanya
Kebahagiaan dede, hidup dede, rezeki dede, allah yang tanggung. Dan aku engga usah khawatir
Aku bahkan engga perlu mengkhawatirkan apapun
Aku hanya tinggal berusaha menjadi orang tua yang baik yang mampu mengajarkan hal2 baik untuk anakku yang super spesial ini."

Aku engga pernah mau berpikir kalau anakku cacat karena pertumbuhan tangannya engga sempurna (sebelah kanan). Engga, anakku sempurna. Tuhan yang sama yang menciptakan aku dan suamiku dengan sempurna.

Aku ingin anakku berpikir bahwa itu bukan kekurangan. Itu hanya berbeda. Tapi bukan sebuah kekurangan. Setiap oramg memang berbeda2 kan ya? Ada yang tinggi ada yang pendek. Ada yang gendut ada yang kurus. Bukan hanya soal fisik. Tapi juga soal sifat dan sikap. Jadi, kenapa harus dibilang kekurangan?

Banyak di luar sana, anak dengan keadaan yang berbeda ini di masa depannya justru sukses. Mengalahkan orang2 disekitarnya. Jadi, berbeda itu engga selamanya buruk kan ya? Justru berbeda kadang bagus. Hang terpenting adalah rasa syukur untuk menggali bahwa perbedaan bisa jadi kekuatan.

Dan untuk all people yang sering banget mengintimidasi orang tua dengan kelahiran anak yang spesial ini, plis stop ya. G ada gunanya menyalahkan. Beri motivasi, bantuan, dan juga semangat kepada mereka. Karena hal yang digunjingkan tersebut sudah terjadi dan sudah menjadi takdir. Tak ada yang bisa dirubah.

Dan untuk orang tua dengan kelahiran anak spesial, stop menyalahkan diri sendiri. Stop merasa depresi, malu, stress. Anakmu butuh kamu. Sampai kapan kamu mau berada di posisi itu. Ingat masa depannya bisa dirubah. Bisa saja lebih cerah. Tinggal kita sebagai orang tua berusaha membimbing mereka, menyemangati, dan juga mendampingi setiap langkah mereka. Jangan lupa, doa adalah mantra paling mujarab. Terutama doa seorang ibu yang sangat di dengar tuhan.

Kasokandel, 7 Mei 2017

Sunday, 3 March 2019

Diary Mommy -- Rasanya Mau Melahirkan

JMamak yakin seyakin yakinnya, setiap proses melahirkan pasti ada rasa nyerinya, ada perjuangan yang harus dilalui, mau itu normal, cecar, lahir dalam air, dalam bak, jongkok, bediri, ya pokoknya melahirkan itu perjuangan lah ya, gausah dipilah2 apalagi dianggap bukan wanita seutuhnya jika tidak melahirkan normal. Jangan, mak! Semua wanita disebut sebagai ibu ketika mereka punya anak, melahirkan anaknya, dan.l merawatnya dengan baik. Jangan oernah ada intimidasi.

Kebetulan aku melahirkan secara normal dan itu luar biasa mak, luar biasa banget mulesnya, sakit pinggangnya, dan marah2 engga jelasnya. Wkwkwkw

Jadi, jam 4 subuh tiba2 aku mules. Jadi aku ke wc dong, cuma engga keluar apa2 padahal mules banget kek pengen boker. Terus balik lah aku ke kamar. Kebetulan suami lagi engga ada, jadi aku santai aja pake celana dalam di kamar. Pas aku liat lagi, eh kok merah ya? Kayak menstruasi gitu. Bilanglah aku pada mimi,  eh semuanya langsung panik genks.

Terus mimi manggil bidan nih. Nyampe di rumahku, bu bidan cek. Oh udah pembukaan satu. Karen udah fix pembukaan, bukan nge flek jadi aku langsung hubungi suami. Suami spontan cemas dan langsung pulang.

Aku yang masih engga percaya kalo mau melahirkan masih santai2 aja.

Singkat cerita, kami berangkat ke puskesmas jam 8 pagi. Nyampe sana itu masih biasa-biasa aja. Gak kerasa mules atau apa. Masih bisa jalan jajan ke Alfamart. Karena gak kerasa mules akhirnya keluarga pulang. Aku sama suami berdua di puskesmas. Untung walau libur tetep ada bidan jaga.

Sambil nungguin pembukaan kerjaan gue apa coba genks? Ngemil, minum susu, terus jalan-jalan, katanya biar mempercepat pembukaan.

Nah mulai nih, mulesnya lebih mules dari sekedar pengen ee. Mulesnya sama kayak disminorea tapi plus sakit pinggang.  Karena mules akhirnya aku duduk, bernafas, biar sakitnya ilang. Ternyata emang bener ilang. Aku lanjut jalan-jalan lagi. Eh, baru juga berapa langkah udah mules lagi. Hilang, jalan lagi. Sampai akhirnya mulesnya ampe bikin pengen muntah dan mules banget genks. Mulai lebih dari disminorea.

Bidan yang liat aku udah kek mules-mules gitu akhirnya nyuruh istirahat di ruangan. Aku akhirnya bisa nih rebahan. Tapi kok pengen pipis ya. Pas mau turun, baru aja selesai gak mules eh udah mules lagi. Dan ini terus-terusan tanpa henti. Pinggang sakit banget sampe rasanya mau patah.

Ya allah, begini ya rasanya mau melahirkan. Begini ya rasanya mimi pas mau melahirkan aku dulu. Tiba-tiba gue mulai melow.

Dari mulai mules ini aku nyuruh suamiku ngelus-elus pinggang terus tanpa henti sampe mimi balik lagi bawa rombongan. Sampe mimi juga akhirnya ngelus-ngelus juga tanpa henti ya pinggang ya perut. Dan pas di elus pusernya yang bikin makin mules.

Lucunya ya, waktu aku lagi meraung-raung karena mules,  lagi genting mau melahirkan sempet-sempetnya mimi bilang gini, "If, si Suci aja ngelahirin anak kembar biasa aja. Gak berisik." O my to the god! You know who is Suci? Itu loh sinetron Cinta Suci yang dibintangi Irish Bella. Aku nepok jidat, tapi masih mules.

Sampai akhirnya jam 12, bu bidan cek. Ternyata udah pembukaan 4 atau 5 gitu. Dan mulesnya udah lyar biasaaa. Sakit pinggangnya juga nikmat alhamdulillah. Makanya kenapa ibu tang meninggal ketika melahirkan disebut sebagai jihad ya memang bener perjuangannya luar biasa.

Sekitar jam 2 pembukaan udah komplut dan akhirnya ketuban pecah. Saat pembukaan udah full, ketuban udah pecah, sakitnya ilang genks. Dan sekarang tinggal ngeden. Rasanta ngeden tuh pokoknya mules kek pengen ee gitu. Dan tiap kali puser gue dielus2 sama mimi langaung ada reaksi dan mules lagi pengen cepetan dikeluarin bayiknya. Kayaknya rangsangan elus di puser pelan sama elus diputing mujarab elus di puser, bagi gue loh ya!

Pas ngelahirin udah gak kerasa apa-apa. Bahkan sakit pun engga. Dan lucunya nih, mimi cerita pas saat itu si dede udah di pintu vagina dan mau keluar, miss V akoh kan membesar. Mimi cerita kalo dia bergumam dalam hatinya, apa ini ya yang namanya miss V 80 juta? Aku tepok jidat yang kedua kalinya. Anaknya lagi ngeden tapi sempet-sempetnya mamake berpikir begitu. Heran saya :v

Rasa sakit yang kedu setelah mules dan sakit pinggang adalah dijahit. Jahitanku lyar dalem. Kalo menurutku sih ya, jahitan dalam tuh g terlalu sakit dibanding jahitan luar. Malah bahkan gak kerasa. Kalo jahitan luar beuuuhhhh lumayan lah ya cetat cetit.

Tapi genks, buat kamu yang masih belum punya anak dan atau lagi nunggu kelahiran anak jangan takut sama yang namanya melahirkan. Karena ini hal yang luar biasa maka tuhan menyamakan pahalanya setara jihad.

Dan engga perlu khawatir nanti gimana, seberapa sakitny, sakit sih. Tapi cuma bentar. Jadi engga usah takut juga. Tyhan sudah menciptakan tempat kehamilannya dan jalan untuk bayi keluar. Makanya engga usah khawatir.

Sekian cerita mamak tentang melahirkan.

Ligung, 8 Juli 2019

Friday, 8 February 2019

Mitos atau Fakta : Ibu Setelah Bersalin Harus Lakukan Ini

Buk-ibuk yang dulu atau sekarang baru bersalin ngalamin ini juga engga ya? Kebetulan aku tinggal di pelosok daerah. Jadi, kepercayaan disini tentang apa-apa saja yang harus dilakukan setelah bersalin itu cukup banyak. Dan sungguh menyiksa.

Contohnya nih, setelah melahirkan kaki harus terus diselonjorkan. Tidur tidak boleh telentang harus posisi kepala jauh lebih tinggi alias tidurnya senderan aja sambil kaki tetap selonjoran. Gimana pantat kagak panas kan, mak?

Alasannya, takut jahitannya nyengsol alias tidak sejajar alias kegeser2 gara-gara posisi duduk yang tidak rapi. Gue nurutin dong dengan susah payah, Mak. Susah payah ya, catet.

Lah, kenapa susah payah? Mak, coba ya dibayangin, ngangkat anak dari samping atau dari posisi yang tidak memungkinkan untuk naro atau angkat bayi ke kasurnya karena nenenin itu loh, berat mak, kadang ane kesulitan. Belum lagi ganti popok kalo pipis atau ee. Ruang geraknya itu loh yang mbingungin. Buat teuteup selonjoran sambil ganti popok anak. Kebayang engga? Kebayang? Ya dikira lagi mantai kali ya selonjoran terus sambil santainya gantiin popok anak. Padahal kagak sesantai itu.

Kadang aku mikir, ini orang tua jaman dulu  kok bisa ya gantiin popok anak atau angkat taro anak sambil selonjoran gitu?

Aku gak tau nih, berdasarkan ilmu kedokteran sendiri, itu selonjoran selama setelah melahirkan selama kurleb 1 bulan itu apakah memang benar adanya harus dilakukan atau ini hanya sejenis mitos?

Mitos selanjutnya setelah melahirkan adalah, jangan tidur siang hari. Kebayang engga, setelah malam begadang kebangun lagi kebangun lagi karena anak menangis. Siangnya dilarang bobok karena masih nifas. Nah, ini aku rada-rada cem mana ya mak. Ada setujunya ada geregetnya juga. Secara ane ngantuk, mak. Pengen bobok ciang selama anak bobok juga.

Oke next,

Yang terakhir adalah mengatur pola makan. Mak, jangan positif thinking ya! Negatif aja engga apa-apa. Karena menunya ala-ala orang diet, bahkan lebih.

Saya makan sama botok tahu. Nyemil sayur atau krupuk sangrai -macem kerupuk miskin- really nonkolesterol. And setiap hari makan-makanan non minyak. Catet, semua makanan.

Aku engga nyemil semua makanan yang digoreng, catet, semua cemilan. Bahkan cemilan kripyik. Yasudah lah ya... jadi aku seharian cuma makan nasi, botok, sama sayur. Dan tidak makan buah-buahan. Karena tidak boleh..., katanya.

Sehat sih, tapi bukannya lagi netein harus banyak nutrisi ya?

Alibi dari semua pola makan 'sehat' tersebut adalah agar rahim cepat kembali sehat setelah melahirkan.

Ya, begitulah. Ada yang sama kah dengan saya?

Ligung, 7 Februari 2019